A.
Pembelajaran Model Kognitif
2.1 Metode Belajar Kognitif
Metode pembelajaran kognitif merupakan salah satu
metode pembelajaran yang menitik beratkan
pada bagaimana peserta didik berpikir, Winkel (1996: 53) dalam bukunya
mengatakan bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai
sikap.Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.memahami dan
mengembangkan konsep serta memecahkan masalah dari konsep yang telah dipahami.
Untuk dapat memahami dan selalu mengingat akan konsep-konsep yang diberikan
kepada peserta didik, maka pendidik haruslah memberikan
penekanan-penekanan serta mengulang atau mereview materi-materi yang telah
diberikan agar apa yang di terima oleh peserta didik dapat masuk ke dalam Long
Therm Memory (Memori Jangka Panjang). Apabila suatu konsep materi sudah
masuk dalam memori jangka panjang maka untuk mengembangkan dan memecahkan
masalah dari konsep yang akan dipahami akan lebih mudah.
2.2
Ruang Lingkup Pembelajaran Kognitif
A.
Prinsip
Prinsip Pembelajaran Kognitif
Ada
beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan-penemuan para ahli
sebelumnya mengenai belajr sebagai proses hubungan
stimulus-respon-reinforcement. Mereka berpendapat, bahwa tingkahlaku seseorang
tidak hanya dikontrol oleh Reward dan reinforcement.Mereka ini adalah para ahli
jiwa aliran kognitif.Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang senantiasa
didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan seseorang
terlibat langsung dalam situsi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan
masalah.Jadi kaun kognitif berpandangan, bahwa tingkahlaku seseorang lebih
bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada dalam suatu
situasi.Keseluruhan adalah lebih dari bagian-bagiannya.Mereka memberi tekanan
pada organisasi pengamatan atas stimulus di dalam lingkungan serta
faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan.
Menurut psikologi kognitif, belajar
dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti tentang sesuatu.Usaha untuk
mengerti tentang sesuatu tersebut, dilakukan secara aktif oleh
pembelajar.Keaktifan tersebut dapat berupa mencari pengalaman, mencari
informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan.Mempraktekkan, mengabaikan
dan respon-respon yang lainnya guna mencapai tujuan. Para psikolog kognitif
berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dipunyai sebelumnya, sangat menentukan
terhadap perolehan belajar :yang berhasil dipelajari yang berhasil diingat dan
yang mudah dilupakan. Salah satu teori belajar yang berasal dari psikologi
kognitif adalah teori pemerosesan informasi. Menurut teori ini, belajar
dipandang sebagaoi proses pengolahaninformasi dalam otak manusia. Sedangkan
pengolahan oleh otak manusia sendiri .
B.
Pengertian
Siklus Belajar (Learning Cycle)
Siklus belajar (learning cycle) adalah suatu model
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered). Pengembangan
model ini pertama kali dilakukan oleh Science Curriculum Improvement Study
(SCIS) pada tahun 1970-1974. Model ini dilandasi oleh pandangan kontruktivisme
dari Piaget yang berangapan bahwa dalam belajar pengetahuan itu dibangun
sendiri oleh anak dalam struktur kognitif melalui interaksi dengan
lingkungannya. Siklus belajar merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase)
yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat menguasai
kompetensi-kompetensi, yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan
berperan aktif. Siklus belajar pada mulanya terdiri dari fase-fase eksplorasi (exploration),
pengenalan konsep (concept introduction) dan aplikasi konsep (concept
application) (Karplus dan Their dalam Renner et al, 1998).
C.
Fase-Fase
Pembelajaran Dengan Model Siklus Belajar (Learning Cycle)
Dalam
pembelajaran model siklus belajar (learning cycle) terdapat 3 fase
penting yaitu fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan penerapan konsep.Padafase
eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk mengeksplorasi materi secara
bebas. Siswa melakukan berbagai kegiatan ilmiah seperti mengamati,
membandingkan, mengelompokkan, menginterpretasikan dan yang lainnya, sehingga
menemukan konsep-konsep penting sesuai dengan topik yang sedang dibahas. Ada
kalanya konsep yang ditemukan sudah sesuai dengan konsepsi awal mereka sehingga
langsung diasimilasikan ke dalam struktur kognitifnya tetapi ada juga konsep
yang tidak sesuai sehingga menimbulkan konflik kognitif. Melalui diskusi
dan bertanya pada teman maupun guru, siswa mengakomodasi konsep tersebut untuk
dapat diasimilasikan. Dengan cara demikian siswa mengembangkan pengetahuan yang
dimilikinya. Pada fase ini aktivitas kebanyakan dilakkan oleh siswa sedang guru
hanya memberikan orientasi tentang apa yang harus dilakukan siswa, mengajukan
pertanyaan untuk mengarahkan kegiatan siswa, memberikan motivasi, serta
mengidentifikasi dan membimbing siswa yang mengalami konflik kognitif. Dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan guru membimbing siswa mengumpulkan data untuk
memecahkan masalah yang sedang dipelajari. Disinilah guru mempunyai banyak
peluang untuk melatih keterampilan proses dan sikap ilmiah para siswa sesuai
dengan apa yang ditargetkan dalam rencana pembelajaran.
Pada fase pengenalan kosnep peran guru
lebih dominan. Dengan menggunakan metode yang sesuai, guru membantu siswa
mengidentifikasi konsep, prinsip, dan hukum-hukum yang berhubungan dengan
pengalaman pada fase eksplorasi.Dalam tahap ini guru berperan lebih
tradisional. Guru mengumpulkan informasid ari murid-murid yang berkaitan dengan
pengalaman mereka dalam eksplorasi. Bagian pelakaran ini merupakan waktu untuk
menyusun pembendaharaan kata. Materi-materi seperti buku, alat pandang dengar
dan materi tertulis lainnya diperlukan untuk penyusunan konsep.
Fase terakhir adalah penerapan konsep.
Pada fase ini siswa diminta untuk menerapkan konsep yang baru mereka pahami
untuk memecahkan masalah-masalah dalam situasi yang berbeda. Dalam hal ini guru
bertugas untuk menyiapkan berbagai kegiatan atau permasalahan yang relevan
dengan konsep yang sedang dibahas.Pada fase ini, peserta didik diajak
menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem
solving atau melakukan percobaan lebih lanjut. Penerapan konsep dapat
meningkakan pemahaman konsep dan motivasi mereka pelajari.
D.
Teori
Algo-Heuristic ( Algorithmico-Heuristic )
Teori Algo-heuristic merupakan salah
satu bagian dari teori belajar Sibernetik.Teori belajar sibernetik merupakan
teori belajar yang berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu
informasi.Menurut teori sibernetik, belajar adalah pengolahan informasi. Teori
ini mempunyai kesamaan dengan teori kognitif yaitu mementingkan proses belajar
daripada hasil belajar, namun dalam teori ini, yang lebih penting adalah sistem
informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa. Informasi inilah yang akan
menentukan bagaimana
proses belajar akan berlangsung, sangat ditentukan oleh sistem informasi yang
dipelajari.
Asumsi lain dari teori sibernetik
adalah bahwa tidak ada satu proses belajarpun yang ideal untuk segala situasi,
dan yang cocok untuk semua siswa sebab cara belajar sangat ditentukan oleh
sistem informasi. Sebuah informasi akan dipelajari seorang siswa dengan satu
macam proses belajar, dan informasi yang sama mungkin akan dipelajari siswa
lain melalui proses belajar yang berbeda.Salah satu penganut aliran sibernetik
adalah Lev NLanda.Ia membedakan ada dua macam proses berpikir, yaitu proses
berpikir algoritmik dan proses berpikir heuristik. Proses berpikir algoritmik yaitu
proses berpikir yang sistematis, tahap demi tahap, linier, konvergen, lurus
menuju satu target tujuan tertentu. Contoh proses algoritmis adalah: kegiatan
menelpon, menjalankan mesin mobil, dan lain-lain. Sedangkan cara berpikir
heuristic adalah cara berpikir divergen, menuju ke beberapa target tujuan
sekaligus. Memahami suatu konsep yang mengandung arti ganda dan penafsiran
biasanya menuntut seseorang untuk menggunakan cara berpikir heuristik. Contoh proses berpikir heuristic
adalah: operasi pemilihan atribut geometri, penemuan cara-cara pemecahan
masalah, dan lain-lain
.
E.
Cognitive Network
Kognitif
jaringan bekerja berdasarkan basis pengetahuan mereka. Semua informasi yang
dikumpulkan dan dipelajari dari keputusan sebelumnya, rencana tindakan dan
hasil akhir untuk kegiatan tertentu. Ini mengikuti lingkaran rekursif untuk
mencapai tugas yang diberikan. Kita dapat mengatakan bahwa ia memiliki
kecerdasan buatan bergabung di dalamnya. Keuntungan utama dari jaringan
kognitif adalah trouble shooting Data Segera dapat dilihat dan ada kesempatan
minimal kegagalan jaringan dalam jaringan kognitif karena bentuk rantai
kolaborasi saat bekerja dengan tujuh lapisan dari model OSI.. Mereka biasanya
kita din jaringan simulasi real time seperti kecerdasan buatan dan otomatisasi
otomotif. juga menyediakan jasa sebuah bantuan dalam pengolahan elemen jaringan
lain milik jaringan kognitif
F.
Concept Learning
Pendidikan
adalah proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan baik pengembangan atau
perolehan intelektualitas maupun pembinaan kepribadian. Pendidikan adalah
sebuah proses, artinya bahwa pendidikan merupakan usaha yang direncananakan dan
dirancang melalui suatu kegiatan “pembelajaran” dimana di dalamnya terdapat
suatu tindakan untuk melayani kegiatan “belajar”.
Berdasarkan
definisi yang telah disebutkan, maka belajar dan pembelajaran merupakan bagian
atau komponen pendidikan baik secara tersurat maupun tersirat. Belajar adalah
proses tindakan untuk mencapai berbagai macam kompetensi pengetahuan,
keterampilan dan sikap. Belajar sebagai proses, kerap diartikan sebagai
perubahan perilaku dan perubahan cara seseorang untuk mereaksi rangsangan
tertentu yang berlangsung lama dan relatif tetap dalam perilaku individu serta
bukan merupakan hasil pertumbuhan.
Hasil
belajar ditunjukkan dalam perubahan tingkah laku dan kepribadian yang dapat
dijabarkan dalam wujud pertambahan materi pengetahuan (fakta, informasi,
prinsip, hukum, nilai), penguasaan perilaku kognitif (berpikir, mengingat,
mengenal kembali), perilaku afektif (apresiasi, penghayatan) dan perubahan
dalam kepribadian. Kegiatan belajar merupakan suatu tindakan yang dialami oleh
siswa itu sendiri baik psikhis dan fisis yang saling bekerjasama terpadu.
Perubahan-perubahan sebagai hasil belajar, merupakan wujud dari hasil latihan,
pengalaman, pengembangan dan pembelajaran yang hasilnya tidak dapat diamati
secara langsung serta diharapkan mengarah pada perkembangan ke arah yang lebih
baik.
Pembelajaran
merupakan usaha membangun proses dengan mewujudkan tindakan untuk mencapai
hasil belajar. Pembelajaran sebagai proses merupakan aktivitas yang dilakukan
seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya, yaitu dengan kegiatan
belajar. Pembelajaran sebagai tindakan yaitu adanya interaksi antara pengajar
(pendidik) dan peserta didik atau tindakan membelajarkan peserta didik serta
interaksi sumber belajar pada suatu lingkungan belajar
2.3 Cara dan
Strategi yang Tepat Untuk Menerapkan Metode Pembelajaran Kognitif
Dalam menerapkan suatu metode pembelajaran haruslah
ada cara-cara yang tepat yang bisa digunakan agar dalam proses belajar dapat
tercapai sesuai dengan keinginan, begitu juga dalam menerapkan metode
pembelajaran kognitif ada cara-cara dalam menerapkannya kepada peserta didik.
Berikut adalah cara dan strategi yang bisa digunakan dalam menerapkan metode
pembelajaran kognitif ini.
1.
Tahap Remembering.
Saat pertama
kali baiknya memberikan motivasi-motivasi terlebih dahulu kepada peserta didik
agar bisa menjadi inspirasi yang mendorong peserta didik untuk belajar.Saat
menyampaikan hendaknya pengajar mampu melakukan penekanan-penekanan, pengodean,
serta perhatian kepada materi yang disampaikannya, serta di akhir jam pelajaran
lakukan pengulangan terhadap materi yang telah diberikan. Untuk lebih
meningkatkan daya ingat peserta didik akan materi lakukan juga sebuah diskusi
untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing peserta didik untuk
mengeksplorasi informasi dari banyak hal.
2.
Tahap Understanding
Seperti
halnya tahap Remembering, dalam tahap Understanding juga dalam
memberikan pendahuluan hendaknya yang menarik.Dalam tahap ini peserta didik
haruslah bereksplorasi dari sumber-sumber yang ada seperti observasi, diskusi
atau eksperimen namun sebelum melakukan kegiatan eksplorasi pendidik haruslah
memberikan sebuah pertanyaan kepada peserta didik sebagai bahan dasar
eksplorasi. Inti dari tahap Understanding adalah sebelum pendidik
menyampaikan materi, jangan beri tahu peserta didik terlebih dahulu, biarkan
mereka mencari tahu dengan bereksplorasi sendiri seperti tadi, hendaknya juga
materi yang akan disampaikan bersifat baru bagi peserta didik sehingga membuat
peserta didik merasa penasaran. Hal tersebut mengacu pada
sekolah-dasar.blogspot.com (2012).
3.
Tahap Aplication
Dalam tahap
ini pendidik menyampaikan kasus-kasus (problem) atau bisa juga dari kasus yang
berasal dari peserta didik saat bereksplorasi yang biasa disebut Study
kasus.Setelah itu pendidik harus memberikan sebuah panduan dalam menyelesaikan
kasus-kasus yang ada dengan panduan yang bersifat global.Setelah memberikan
panduan kepada peserta didik, biarkan mereka memecahkan kasus-kasus yang telah
diungkapkan sebelumnya menggunakan panduan yang telah diberikan pendidik
tadi.Akhir tahap ini pendidik harus memberikan masukan-masukan atau koreksi
terhadap pemecahan kasus yang kurang tepat atau yang lainnya.Jangan lupa
berikan sebuah penutup yang baik.
4.
Tahap Analysis
Dalam tahap
ini process skill harus digunakan untuk menganalisis masalah.Namun
sebelum melakukan analisis pertama-tama yang harus dilakukan adalah
menyampaikan masalah-masalah yang dihadapi kemudian mengumpulkan data-data dari
masalah yang bersifat deduktif setelah itu barulah menganalisis data dari
masalah yang dihadapi, analisis dalam hal ini harus bersifat deskriptif.Setelah
menganalisis semua data-data yang telah ditemukan maka pembuatan kesimpulan
harus dilakukan, semakin detail hasil dari analisis tadi maka semakin bagus
pula kesimpulannya.Jangan lupa memberikan pendahuluan di awal dan penutup di
akhir jam.
5.
Tahap Evaluation
Tahap Evaluation
atau evaluasi adalah tahap mengevaluasi dari data atau kesimpulan yang di
dapat dalam tahap Analysis untuk dilihat kebenarannya atau kebetulannya
bila peserta didik memiliki kesalahan-kesalahan yang dilakukan saat menganalisis
atau mungkin kesalahan data saat menganalisis maka yang berhak membenarkan atau
meluruskan kembali adalah pendidik. Tahap-tahap rangkaian dalam Evaluation ini
hampir sama dalam tahap pada Analysis.
6.
Tahap Creation
Dalam tahap
ini peserta didik haruslah berperan aktif dan berperan penuh, sementara
pendidik hanya sebagai pemantau saja.Pertama kali yang harus dilakukan peserta
didik dalam tahap ini adalah menyampaikan proyek atau kasus, selanjutnya adalah
evaluasi dari proyek atau kasus yang telah disampaikan tadi.Yang menjadi dasar
dalam tahap Creation ini adalah memperbaiki kelemahan-kelemahan yang
ada.Selanjutnya adalah inovasi proyek atau kasus dalam hal ini peserta didik
haruslah membuat sebuah inovasi yang baru dari hal yang ada.Inovasi dalam hal
ini bukan berarti membuat sebuah hal yang baru namun inovasi adalah membuat
suatu kelebihan dari sebuah kekurangan yang dimiliki oleh hal tersebut. Setelah
melakukan inovasi hal yang harus dilakukan peserta didik adalah melaporkan
hasil dari proyek atau kasus yang telah dikerjakan kepada peserta didik lain
atau kepada pendidik. Jangan lupa juga berikan sebuah penutup dan pembuka saat
di tahap ini.
2.4 Aplikasi
Teori Kognitif dalam Kegiatan Pembelajaran
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai
suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi
perseptual, dan proses internal. Ketiga tokoh memiliki pandangan yang sama
mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut Piaget,
hanya dengan mengatifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan
akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara
Bruner, lebih banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri
melalui aktivitas menemukan (discovery).
Ausubel lebih mementingkan struktur disiplin ilmu. Proses belajar lebih
menekankan pada cara berfikir deduktif.
2.5 Kelebihan dan Kekurangan dari Metode
Pembelajaran Kognitif
Kelebihan dari Metode Pembelajaran Kognitif
Setiap teori pembelajaran pastilah memiliki kelebihan
dibandingkan teori pembelajaran yang lain. Selain itu setiap teori pembelajaran
juga melengkapi dan menambah dari kekurangan teori-teori pembelajaran yang
telah diungkapkan oleh para ahli sebelumnya. Teori pembelajaran Kognitif ini
memiliki kelebihan yang terbilang banyak di antaranya adalah :
1.
Negara Indonesia dalam kurikulum pendidikannya lebih
menekankan pada teori belajar kognitif yang mengutamakan pada pengembangan
pengetahuan yang dimiliki dan value pada setiap individu
2.
Pada metode pembelajaran kognitif pendidik hanya perlu
memberikan dasar-dasar dari materi yang di ajarkan untuk pengembangan dan
kelanjutannya diserahkan kepada peserta didik, dan pendidik hanya perlu
memantau, mengatur dan menjelaskan dari alur pengembangan materi yang telah
diberikan
3.
Dengan metode pembelajaran kognitif maka pendidik
dapat memaksimalkan ingatan yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengingat
semua materi-materi yang diberikan karena pada pembelajaran kognitif salah satunya
menekankan pada daya ingat peserta didik untuk selalu mengingat dan mengingat
akan materi-materi yang telah diberikan
4.
Tingkatan terakhir pada domain belajar kognitif
menurut krathwol adalah Creation yang berarti kreasi atau pembuatan
suatu hal baru atau membuat suatu yang baru dari hal yang sudah ada, maka dari
itu dalam metode belajar kognitif peserta didik harus lebih bisa mengkreasikan
hal-hal baru yang belum ada atau menginovasi hal yang sudah ada menjadi lebih
baik lagi.
5.
Selain itu metode pembelajaran kognitif ini mudah
untuk di terapkan dan telah banyak diterapkan pada pendidikan Indonesia di
segala tingkatan.
Selain kelebihan di atas, masih banyak lagi kelebihan
yang terdapat dalam metode pembelajaran kognitif ini.
Kekurangan dari Metode Pembelajaran Kognitif
Selain meninjau dari segi kelebihan metode
pembelajaran kognitif, di sini juga akan ditinjau dari segi kekurangannya.
Berikut adalah beberapa kekurangan yang dimiliki oleh metode pembelajaran
kognitif :
1.
Karena pembelajaran kognitif menitih beratkan pada
kemampuan kognitif atau kemampuan ingatan peserta didik, dan kemampuan ingatan
masing-masing peserta didik maka di sini kelemahan dari pembelajaran kognitif
adalah selalu menganggap sama semua daya ingat masing-masing peserta didik sama
dan tidak berbeda-beda
2.
Dalam metode kognitif juga tidak memperhatikan cara
peserta didik dalam mengeksplorasi pengetahuan dan cara-cara peserta didik
dalam mencarinya, karena pastilah masing-masing individu memiliki cara yang
berbeda dalam mencari sebuah informasi, Seperti hasil dari penelitian Biggs dan
Collis (1982)
3.
Jika seorang pendidik mengajar hanya menggunakan
metode kognitif saja terutama dalam sekolah kejuruan tanpa dibarengi dengan
metode pembelajaran lain, maka dapat dipastikan peserta didik yang diajarkan
tidak bisa mengerti sepenuhnya terhadap materi-materi yang diberikan
4.
Jika dalam pendidikan kejuruan hanya menggunakan
metode kognitif tanpa dibarengi dengan metode pembelajaran yang lain maka
peserta didik akan kesulitan dalam melakukan praktek kegiatan atau materi.
Sebagai contoh jika seorang guru memberikan cara untuk tune up sebuah mobil
tanpa memberikan contoh praktek kegiatan tune up itu sendiri (hanya teori saja
yang diberikan) mungkin siswa tidak akan bisa untuk melakukan tune up sendiri.
5.
Dalam menerapkan metode pembelajaran kognitif perlu
diperhatikan kemampuan peserta didik untuk mengembangkan suatu materi yang
telah diterimanya, apabila seorang peserta didik tidak mampu menggunakan
kemampuannya untuk mengembangkan suatu materi yang telah diberikan oleh
pendidik, maka peserta didik tadi tidak akan mampu mencapai titik tertinggi
dalam domain belajar kognitif yang telah diungkapkan oleh Krathwol